23
DEC
2014

WORLD AIDS Day 2014:Jauhi penyakitnya bukan orangnya

“Kami juga manusia biasa, sakit hati kami lebih sakit daripada tubuh kami sedang digerogoti…” HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan terjadinya defisiensi tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya1.

 

World Health Organization (WHO) mengatakan hingga saat ini infeksi HIV masih menjadi salah satu masalah kesehatan dunia. Di Asia Tenggara sepanjang tahun 2014 WHO menemukan ada 3,4 juta orang hidup dengan HIV. Jika dibiarkan, dalam waktu beberapa tahun HIV dapat berkembang menjadi AIDS. Seseorang dengan AIDS akan sulit melawan infeksi karena virus telah merusak kekebalan tubuhnya. Tanpa kekebalan tubuh, infeksi dari penyakit yang sebelumnya bisa sembuh bagi pengidap AIDS dapat berakibat fatal. Oleh karena HIV belum ada obat penyembuhnya dan jumlah pengidapnya meningkat, penting bagi masyarakat untuk mengetahui fakta dari virus tersebut2.

 

Memperingati hari HIV/AIDS sedunia, 1 Desember 2014, dunia keperawatan  semakin kritis dalam menerapkan asuhan keperawatan holistik. Wanita hamil dapat juga menularkan HIV/AIDS ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui. Penularan secara perinatal terjadi ketika ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang dikandungnya. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi.  Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewktu berada dalam kandungan atau juga melalui ASI3.

 

Dr. Siti Nadia Tarmizi, MEpid, Kasubdit HIV-AIDS dan Penyakit Menular Seksual, Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI, mengatakan bahwa pedoman baru mengenai penggunaan obat antiretroviral (ARV) dan antibiotik untuk mencegah HIV sedang disiapkan oleh World Health Organization (WHO). Saat ini dikatakan oleh WHO masih banyak orang yang belum mendapatkan terapi komprehensif dan penyuluhan pencegahan yang memadai. ARV digunakan untuk mengendalikan HIV dalam tubuh agar tak berkembang biak lebih banyak. Logikanya, jika virus yang ada di dalam tubuh ibu sedikit, potensi penularan kepada anak yang sedang dikandung pun akan turun. Dengan logika yang sama, potensi penularan HIV dari ibu ke anak melalui Air Susu Ibu (ASI) yang selama ini ditakutkan juga akan berkurang. Ibu positif HIV yang ingin memberikan ASI ekslusif kepada bayi selama 6 bulan pun diperbolehkan, asal syarat mengonsumsi ARV setiap hari dipenuhi. Mengonsumsi obat ARV tiap hari mulai dari pertama kali mengetahui status HIV memang jadi syarat mutlak agar ibu hamil tak menularkan HIV ke anak. Jika syarat itu tidak terpenuhi atau minum obatnya tidak teratur, ada kemungkinan virus menjadi resistan terhadap obat. Akibatnya, potensi penularan kepada anak pun meningkat. Menurut dr. Nadia, obat ARV baru yang digunakan Kemenkes saat ini mempunyai peranan penting dalam berkurangnya peningkatan kasus dari HIV menjadi AIDS di Indonesia. Jika dahulu obat harus diminum tiap 12 jam, obat ARV sekarang hanya cukup dikonsumsi satu buah tiap harinya3,4.

 

Hari HIV/AIDS sedunia tahun 2014 ini menyadarkan kita bahwa hingga saat ini penatalaksaan kuratif masih belum ditemukan, hingga saat ini hanyalah penatalaksaan paliatif yang diberikan. Maka dari itu, tindakan yang paling tepat kepada masyarakat adalah preventif atau pencegahan. Preventif sendiri dapat dibagi menjadi preventif primer, sekunder maupun tersier. Pengucilan juga sering tak lepas untuk mereka yang menderita HIV/AIDS. Perawat yang profesional selalu dituntut untuk memberikan holistic care terhadap pasien. Holistic care merupakan keperawatan mencakup semua aspek baik dari biologi, psikologi, fisiologi, sosial, spiritual dan budaya. Diagnosa yang dapat diberikan untuk kasus HIV/AIDS sebagai pendukung holistic care pada pasien adalah sebagai berikut 5:

  1. Primer
    1. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi.
    2. Kesiapan meningkatkan pengetahuan
  2. Sekunder
    1. Resiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
    2. Resiko kontaminasi berhubungan dengan adanya kontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan dan menyusui.
  3. Tersier
    1. Kesiapan meningkatkan managemen kesehatan diri

 

Ketakutan penderita HIV/AIDS pada kematian fisik di satu sisi, dan ada kematian sosial (menjadi wanita dengan AIDS) harus mendapatkan perhatian pagi orang-orang yang ada disekitarnya. Memberikan dukungan moril agar mendapatkan suatu harapan untuk keberlanjutan kehidupannya. Hal tersebut dapat memberikan dampak positif bagi pasien untuk optimis dalam menjalani hidup dan membawaperubahan drastis bagi kehidupannya. Perlindungan atau advokasi untuk klien dengan membuat arahan yangtepat dan memiliki pengetahuan medis dan hukum yang memadaiberkaitan dengan HIV/AIDS seperti dalam strategi intervensi yangpenting untuk konselor6,7,8.

 

Daftar Pustaka

  1. Detik.com. 2014. Penderita HIV AIDS juga Manusia Biasa. http://baharudinwahida.blogdetik.com. diakses tanggal 9 Desember 2014. 21.00 WITA
  2. Detikhealth.com. 2014. Hari AIDS Sedunia Fakta-fakta HIV-AIDS yang Perlu Anda Ketahui (2). http://health.detik.com/read/2014/12/01/143739/2764132/763/fakta-fakta-hiv-aids-yang-perlu-anda-ketahui–2-. diakses tanggal  9 Desember 2014. 22.05 WITA
  3. Mandal. 2014. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series
  4. Detikhealth.com: Hari AIDS Sedunia Fakta-fakta HIV-AIDS yang Perlu Anda Ketahui (1) http://health.detik.com/read/2014/12/01/133439/2764028/763/fakta-fakta-hiv-aids-yang-perlu-anda-ketahui–1- diakses tanggal 9 Desember 2014. 22.05 WITA
  5. NANDA International. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2012 – 2014. Wiley Blackwell (2009)
  6. Johnson, Marion et al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA : Mosby.
  7. McCloskey, Joanne C., Bulechek, Gloria M. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC). USA : Mosby.
  8. Academia.edu. 2014. Fenomena Ketidakpastian dalam Hidup Pasien HIV. http://www.academia.edu/4874058/Fenomena_Ketidakpastian_dalam_Hidup_Pasien_HIV